Tampilkan postingan dengan label Afganistan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Afganistan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2013

Operasi Militer Afganistan Bunuh 20 Militan

Pasukan keamanan Afganistan berjaga di dekat jasad anggota kelompok militan yang menyerang distrik Bazarak, Provinsi Panjshir, Afganistan, Rabu (29/5/2013). Bersamaan dengan serangan ini, kelompok militan juga menyerang sebuah kantor palang merah internasional di Jalalabad. | SHAH MARAI / AFPKOMPAS.com - Militer Afganistan (ANSF) menghelat operasi militer sejak Jumat (23/8/2013) pagi pada delapan provinsi. Hasilnya, tulis AP, hari ini, 20 militan terbunuh. Lalu, 5 lainnya terluka. Serta, 9 militan ditangkap.

Informasi ini berasal dari rilis Kementerian Dalam Negeri Afganistan. Menurut kementerian itu, delapan provinsi dimaksud adalah Laghman, Baghlan, Kunduz, Kandahar, Zabul, Herat, Badghis, dan Helmand. Sejauh ini, belum ada pernyataan dari kelompok perlawanan Taliban.

Sementara itu, menurut Kepala Administrasi Provinsi Kunduz Aliabad Mahbubullah Sayedi sekelompok orang bersenjata menembaki sebuah mobil di kawasan di jalan raya utama Aliabad pada Jumat malam. Insiden  ini menewaskan 3 perempuan, 1 anak, dan 1 pria di dalam mobil naas itu. "Polisi masih mencari motif tindak kekerasan itu,"kata Aliabad Mahbubullah Sayedi.

Dalam semester pertama 2013, ada 1.319 warga sipil tewas dan 2.533 terluka dalam konflik bersenjata di Afganistan, seturut data PBB. Angka ini naik 23 persen ketimbang periode sama pada 2012.


View the original article here

Afganistan dan AS Bicarakan Kembali Perjanjian Keamanan Bilateral

Taliban rencanakan serangan musim semi terhadap misi NATO di Afganistan, ISAF. | ShutterstockKOMPAS.com — Afganistan dan Amerika Serikat (AS) akhirnya bisa kembali lagi membicarakan perjanjian keamanan bilateral (BSA). "Ini adalah langkah maju kedua negara," kata Presiden Afganistan Hamid Karzai di Arg alias Istana Kepresidenan Afganistan di Kabul.

Sebagaimana warta AP pada Sabtu (24/8/2013), dua tokoh Afganistan menjadi wakil dalam negosiasi tersebut. Yang pertama Rangin Dadfar Spanta, Penasihat Keamanan Nasional Afganistan. Tokoh kedua adalah Dr Ashraf Ghani Ahmadzai. Sama seperti Spanta, Ahmadzai juga menjadi penasihat keamanan Afganistan.

Sebetulnya, perundingan terkait BSA dimulai di Kabul, November, setahun silam. Pada 19 Juni 2013, pembicaraan itu terhenti oleh kebijakan Afganistan. Kala itu, kelompok Taliban membuka kantor perwakilannya di Doha, Qatar. Kantor itu komplet dengan bendera Taliban dan nama Keemiratan Islam Afganistan. Gara-gara hal itulah, Pemerintah Afganistan menghentikan semua upaya dialog.

Selama masa penghentian itu, imbuh Hamid Karzai, pihaknya mencari opini publik soal BSA melalui majelis rendah Afganistan, Loya Jirga. Pihak wakil rakyat Afganistan tersebut kini tengah dalam proses membahas pokok-pokok pada BSA tersebut. "Kami berpendapat penandatanganan hasil negosiasi BSA tergantung pada keputusan di Loya Jirga," tutur Hamid Karzai.

Dalam negosiasi itu, AS meminta agar penandatanganan hasil negosiasi terwujud dengan tenggat Oktober tahun ini. "Sekali lagi, kami bersandar pada hasil pembahasan di Loya Jirga," kata Karzai memberi penekanan.

Poin kontroversial pada BSA adalah jaminan bagi AS untuk tetap berada di Afganistan pasca-penarikan seluruh pasukan asing di Negeri Para Mullah itu sampai dengan akhir 2014. Poin itu menjadi perdebatan yang belum tuntas bahkan di antara negara tetangga Afganistan, hingga kini.


View the original article here