Tampilkan postingan dengan label adalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adalah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2013

Pembunuh Terbesar Rakyat China adalah Tepung Terigu?

Hindari terlalu banyak mengonsumsi makanan berbasis tepung terigu dan digoreng. | SHUTTERSTOCKKOMPAS.com - Kandungan zat alumunium masih berlebih dalam program asupan diet kebanyakan rakyat China. Adalah Shanghai Daily yang mewanti-wanti hal itu dalam wartanya pada Sabtu (24/8/2013). "Kelebihan alumunium bisa berefek pada gangguan syaraf, pernapasan, hingga pembentukan tulang," tulis media itu merilis riset pakar pangan Chen Junshi.

Riset itu juga mengatakan kalau 40 persen kandungan alumunium dari menu diet rakyat China justru ada di tepung terigu. Nah, Junshi menunjuk serbuk pengembang terigu alias baking powder pada makanan adalah biang keladinya. "Tepung terigu makanan diet masih banyak ditambahkan baking powder," katanya.  

Kondisi, imbuh Junshi jadi serba salah. Soalnya, baking powdermenjadikan makanan lebih lezat. Maka dari itu, industri makanan di Negeri Tem
bok Raksasa paling doyan menambahkan zat ini.

Problem, kata Junshi muncul juga lantaran harga baking powder bebas alumunium masih mahal. "Pabrik makanan tak mau membeli baking powder seperti itu," tuturnya.

Junshi membeberkan peraturan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan kalau asupan baking powder beralumunium itu terbatas pada 2 miligram per kilogram berat badan. "Itu pun cuma seminggu sekali,"katanya menegaskan sembari menambahkan kalau 32,5 persen dari rakyat China justru kelebihan asupan itu.

Roti

Lebih rinci Junshi mengatakan 44 persen dampak kelebihan alumunium itu berangkat dari kebiasan menggunakan tepung terigu sebagai bahan makanan olahan. Tepung terigu kebanyakan dibuat roti (24 persen) dan camilan gorengan (10 persen).

Rakyat kawasan China Utara, terang Junshi, yang secara tradisional paling suka menyantap produk makanan berbasis terigu seperti mi, menyerap empat kali kandungan alumunium ketimbang saudaranya di China Selatan.

Riset pun menunjukkan kalau rata-rata asupan konsumsi alumunium adalah 2,9 miligram per kilogram berat badan pada rakyat China Utara. "Ini kan 1,5 kali lebih banyak dari aturan WHO tadi,"kata Junshi.

Kemudian, warta Guangzhou Daily terkait riset itu menunjukkan kalau 43 persen dari total jumlah bocah China berusia empat hingga enam tahun melahap 2,6 kali asupan sebagaimana aturan WHO itu. Riset ini sendiri mengambil 6.600 sampel dari 11 jenis makanan.

Sementara, Pusat Nasional China untuk Keamanan Pangan mengimbau agar asupan alumunium dari posisi awal 1,8 miligram per kilogram berat badan mesti diturunkan ke posisi paling banter 0,8 miligram per kilogram berat badan. Lembaga itu bilang, ke depan, kalau rakyat China makin tak acuh dengan aturan itu, risiko bahaya bakal menjulang hingga ancaman kematian.


View the original article here

Di Planet Ini, Setiap Hari adalah Tahun Baru

Ilustrasi planet Kepler 78 b yang mengorbit bintangnya hanya dalam 8,5 jam. | Christina Sanchis Ojeda
KOMPAS.com — Manusia harus menunggu 365 hari Bumi untuk bisa merayakan tahun baru. Namun, di Planet Kepler 78b, manusia bisa merasakan setidaknya dua kali tahun baru setiap satu hari Bumi. Seusai lelap tertidur, manusia akan bangun pada tahun yang berbeda.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Jawabannya adalah pada periode revolusi planet mengelilingi bintangnya. Jarak Kepler 78b dengan bintangnya 40 kali lebih dekat dari jarak Merkurius ke Matahari. Sekali revolusi atau satu tahun di planet itu setara dengan 8,5 jam di Bumi.

Dirilis MIT News, 19 Agustus 2013, Kepler 78b sejatinya adalah planet yang baru saja ditemukan oleh tim ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Tim ilmuwan menemukannya dengan metode transit, yakni melihat turunnya intensitas cahaya bintang saat planet melintas di mukanya.

Data intensitas cahaya bintang telah didapatkan sebelumnya. Dalam penelitian ini, ilmuwan menganalisis data dengan bantuan metode matematika bernama Fourier untuk membantu menandai naik turunnya intensitas cahaya bintang dan polanya. Adanya pola tertentu menandakan adanya planet.

Jarak antara Kepler 78b dan bintang induknya yang sangat dekat membuat suhu di planet ini sangat panas, mencapai 2.760 derajat celsius. Dengan suhu ini, seluruh permukaan planet meleleh, membuat planet menjadi dunia yang diselimuti oleh lava.

Tak usah bertanya apakah planet ini bisa dihuni atau tidak. Dengan suhu ribuan derajat dan permukaan yang dipenuhi lautan lava, kehidupan kompleks seperti tumbuhan, hewan, dan manusia adalah sebuah kemustahilan.

Walau planet jelas tak bisa dihuni, penemuan planet ini tak bisa dibilang sia-sia. Lewat analisis intensitas cahaya bintang, ilmuwan untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi cahaya yang diemisikan oleh planet. Cahaya Kepler 78b diduga berasal dari pantulan cahaya bintangnya dan panas permukaannya.

Mengetahui bahwa planet bisa survive dengan orbit sangat dekat, ilmuwan juga bisa menduga komposisi planet tersebut. Planet hampir pasti kaya akan besi. Bila tidak, planet pasti sudah akan hancur karena gaya pasang dari bintangnya.

Informasi tentang komposisi planet dan cahaya yang diemisikan penting untuk memperkirakan massa planet. Jika massa Kepler 78b nanti bisa didefinisikan, planet itu nantinya akan menjadi planet ekstrasolar seukuran Bumi yang diketahui pasti massanya.

Kepler 78b diduga mengorbit bintang yang masih sangat muda. Kecepatan rotasi bintang itu begitu tinggi, dua kali kecepatan rotasi Matahari. Penemuan Kepler 78b dipublikasikan di The Astrophysical Journal pada 16 Agustus 2013 lalu.

Dalam publikasi berbeda di Astrophysical Journal Letters, tim yang dipimpin oleh Saul Rappaport juga mengumumkan penemuan planet KOI 1843.03. Planet ini mengorbit bintangnya hanya dalam waktu 4,5 jam. Jadi, dalam sehari Bumi, planet itu setidaknya mengalami lima kali tahun baru.


View the original article here