Tampilkan postingan dengan label Dekat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dekat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 September 2013

ISG Makin Dekat, Tim Karate Indonesia Gelar Simulasi

Jakarta - Demi terus mematangkan persiapan jelang Islamic Solidarity Games, Pengurus Besar (PB) Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (FORKI) menggelar simulasi pertandingan di Hall B Gelora Bung Karno, Senayan, Jumat (13/9/2013).

Sebanyak 28 atlet pelatnas mengikuti seluruh rangkaian simulasi yang digelar pukul 09.00 WIB- 16.30 WIB. Tim sendiri dibagi menjadi dua grup, yakni sabuk merah dan sabuk biru.

Pelatih kepal, Zulkarnaen Purba yang ditemui detiksport usai simulasi pertandingan mengatakan kalau masih ada beberapa catatan yang perlu dimatangkan. Sejauh ini atlet belum benar-benar bisa dikatakan sudah siap.

Salah satunya soal taktik dan reaksi. Menurutnya, hasil simulasi tadi masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah yang harus dibenahi secara khusus.

"Teknik sudah oke, tapi taktik bertanding, dan reaksi masih perlu pematangan lagi. Kalau reaksi itu, biasanya lebih ke bagaimana reaksi kita saat membuka bloking. Nah itu yang masih harus kita latih lagi," kata Zulkarnaen lagi.

Senada dengan Zulkarnaen Purba, pelatih kumite beregu Delfinus Rumahorbo juga mengungkapkan hal yang sama. Dia menuturkan, selain reaksi dan aksi, ada catatan lain pada hasil simulasi tadi. Utamanya, soal emosi atlet khususnya di kumite beregu.

"Biasanya kalau di beregu itu, emosi pemain cenderung mudah keluar, dan ini bisa sangat berpengaruh kepada psikologis atlet lainnya. Karena, jika satu kalah, atlet yang akan bertanding selanjutnya pasti akan terbeban, ini bisa berpengaruh pada kekuatan tim," kata dia dalam kesempatan terpisah.

"Makanya, selain atletnya yang harus berjuang. Ada strategi pelatih juga yang harus dipertaruhkan. Itu bisa jadi catatan kami juga," tambahnya.

Tapi lebih dari itu, hasil simulasi tadi sedianya cukup membuat pihaknya optimistis bisa merebut emas di ISG nanti.

"Bisa curi emas, tapi kita juga harus tahu diri karena untuk negara luar itu kekuatannya sudah merata. Seperti Iran, Turki, dan Mesir, itu mereka kuat-kuat. Tapi kami yakin bisa," katanya. (mcy/din)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!


View the original article here

Minggu, 25 Agustus 2013

Asal Usul Sungai Gas di Dekat Bimasakti Terkuak

sungai magellan,bimasaktiSungai Magellan, struktur pita yang terdiri atas gas, mengelilingi setengah galaksi Bimasakti (D. Nidever, et al).

Dengan menggunakan teleskop Hubble, astronom berhasil mengungkap sumber aliran "Sungai Magellan".

Meski disebut sungai, Sungai Magellan sama sekali tidak terdiri atas air. Sungai Magellan tersusun atas gas yang berbentuk pita panjang. Struktur ini pertama kali ditemukan pada tahun 1970-an.

Data Hubble mengungkap bahwa aliran gas Sungai Magellan berasal dari Awan Magellan Besar dan Awan Magellan Kecil, dua galaksi kecil atau satelit galaksi yang berada di dekat Bimasakti.

Diberitakan Livescience, Jumat (9/8/2013), data terbaru Hubble juga menguak bahwa Sungai Magellan itu tidak terbentuk secara sekaligus.

Sebagian Sungai Magellan terbentuk dari material di Awan Magellan Kecil sekitar 2 miliar tahun lalu, sementara sebagian lain masih relatif baru terbentuk.

Astronom mengungkap asal mula aliran gas tersebut setelah melakukan pengukuran atas kemelimpahan unsur berat di enam lokasi berbeda di aliran itu.

Pengukuran dilakukan dengan salah satu instrumen teleskop Hubble yang bernama Hubble Cosmic Origins Spectrograph. Instrumen bekerja dengan mendeteksi sifat unsur dalam menyerap ultraviolet.

Terungkap, sebagian besar dari aliran miskin oksigen dan belerang sesuai dengan karakteristik galaksi Awan Magellan Kecil.

Di sisi lain, peneliti dikejutkan dengan kandungan belerang yang lebih tinggi pada bagian aliran yang dekat dengan Awan Magellan Besar.

"Kami menemukan jumlah unsur berat yang konsisten dalam aliran itu sampai di dekat Awan Magellan, di mana unsur berat meningkat," kata Andrew Fox dari Space Telescope Science Institute, Maryland.

"Komposisi pada bagian pusat sungai sangat mirip dengan Awan Magellan Besar menunjukkan bahwa bagian itu terbentuk dari material di galaksi itu baru-baru ini," imbuh Fox.

Menurut Fox, studi ini membantu para peneliti mengetahui bagaimana galaksi besar memengaruhi satelit galaksi di sekitarnya.

Penelitian ini nantinya akan membantu mengungkap bagaimana Bimasakti mengisap gas di galaksi kecil di sekitarnya sehingga bisa membuat bintang baru.
(Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com)


View the original article here