Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 September 2013

Ganda Putri Habis, Indonesia Sisakan Dua Wakil di Semifinal

Changzhou - Indonesia tak menyisakan satupun wakilnya di nomor ganda putri China Masters setelah Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii menelan kekalahan. Cuma pasangan Riky Widianto/Puspita Richi Dili dan Markis Kido/Pia Zebadiah yang berhasil melaju ke semifinal.

Bertanding pada Jumat (13/9/2013) malam WIB, pasangan Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii dijegal ganda putri nomor satu dunia dari China Yu Yang/Wang Xiaoli dengan 16-21 dan 11-21 dalam waktu 29 menit.

Nitya/Greysia keteteran sejak awal game pertama. Mereka langsung tertinggal 0-8. Kans untuk membalikkan keadaan gagal meski mampu mendekati perolehan poin 6-8. Pasangan yang ada di urutan ke-55 dunia itu merampungkan game pertama dengan kekalahan 16-21 tanpa sekalipun sempat menyusul poin lawan.

Kondisi serupa terjadi di game kedua. Nitya/Greysia malah makin tak berdaya setelah tertinggal 11-15.

"Pada pertandingan tadi, kami kesulitan dengan bola-bola yang diberikan Wang/Yu. Bola-bola mereka susah untuk kami kembalikan," kata Nitya usai pertandingannya.

"Kami sudah bermain di pola yang benar, dengan menekan lawan lebih dulu, akan tetapi banyak buangan bola kami yang tanggung," lanjut dia.

Ganda putri lainnya Pia Zebadiah/Rizki Amelia Pradipta lebih dulu angkat koper. Unggulan keempat itu kandas di tangan pasangan Korea Selatan, Jang Ye Na/Kim So Young, dalam pertarungan tiga game 17-21, 21-18, 10-21.Next

(fem/din)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!


View the original article here

ISG Makin Dekat, Tim Karate Indonesia Gelar Simulasi

Jakarta - Demi terus mematangkan persiapan jelang Islamic Solidarity Games, Pengurus Besar (PB) Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (FORKI) menggelar simulasi pertandingan di Hall B Gelora Bung Karno, Senayan, Jumat (13/9/2013).

Sebanyak 28 atlet pelatnas mengikuti seluruh rangkaian simulasi yang digelar pukul 09.00 WIB- 16.30 WIB. Tim sendiri dibagi menjadi dua grup, yakni sabuk merah dan sabuk biru.

Pelatih kepal, Zulkarnaen Purba yang ditemui detiksport usai simulasi pertandingan mengatakan kalau masih ada beberapa catatan yang perlu dimatangkan. Sejauh ini atlet belum benar-benar bisa dikatakan sudah siap.

Salah satunya soal taktik dan reaksi. Menurutnya, hasil simulasi tadi masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah yang harus dibenahi secara khusus.

"Teknik sudah oke, tapi taktik bertanding, dan reaksi masih perlu pematangan lagi. Kalau reaksi itu, biasanya lebih ke bagaimana reaksi kita saat membuka bloking. Nah itu yang masih harus kita latih lagi," kata Zulkarnaen lagi.

Senada dengan Zulkarnaen Purba, pelatih kumite beregu Delfinus Rumahorbo juga mengungkapkan hal yang sama. Dia menuturkan, selain reaksi dan aksi, ada catatan lain pada hasil simulasi tadi. Utamanya, soal emosi atlet khususnya di kumite beregu.

"Biasanya kalau di beregu itu, emosi pemain cenderung mudah keluar, dan ini bisa sangat berpengaruh kepada psikologis atlet lainnya. Karena, jika satu kalah, atlet yang akan bertanding selanjutnya pasti akan terbeban, ini bisa berpengaruh pada kekuatan tim," kata dia dalam kesempatan terpisah.

"Makanya, selain atletnya yang harus berjuang. Ada strategi pelatih juga yang harus dipertaruhkan. Itu bisa jadi catatan kami juga," tambahnya.

Tapi lebih dari itu, hasil simulasi tadi sedianya cukup membuat pihaknya optimistis bisa merebut emas di ISG nanti.

"Bisa curi emas, tapi kita juga harus tahu diri karena untuk negara luar itu kekuatannya sudah merata. Seperti Iran, Turki, dan Mesir, itu mereka kuat-kuat. Tapi kami yakin bisa," katanya. (mcy/din)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!


View the original article here

Demi SEA Games, Tim Karateka Indonesia Jalani Delapan Uji Coba

Jakarta - Pengurus Besar (PB) Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (FORKI) serius dalam mempersiapkan atletnya menuju SEA Games XXVII. Delapan uji coba sudah dipersiapkan untuk 28 atlet pelatnas.

Hal itu disampaikan Ketua umum PB FORKI, Hendardji Soepandji ketika ditemui di hall B Glora Bung Karno, Senayan, Jumat (13/9/2013).

Ia mengatakan dalam rangka persiapan menghadapi SEA Games nanti, pihaknya sudah menyiapkan delapan uji coba, yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas para atlet.

Delapan uji coba itu antara lain, 2nd SEAKF Karate Championships 2013, di Pampaga, Filipina, 17-21 April 2013, Karate WKF Premier League 2013 di Jakarta, Juni, Finnish Open 2013 digelar di Finlandia pada 31 Agustus hingga 1 September.

Sementara lima lainnya, baru akan dijalani dalam tiga bulan kedepan. Lima agenda itu adalah Islamic Solidarity Games, di Palembang, 22 September- 1 Oktober 2013, AKF Champion Cup 2013 di Kazakhstan, awal Oktober, turnamen Italy Open, di Italy, akhir Oktober, dan 8th World Cadet & Junior karate, di Spanyol, awal November, serta 2th AKF Senior & 13th AKF junior Championship, awal Desember.

“Dengan delapan uji coba yang sudah dipersiapkan ini, saya harap atlet bisa jauh lebih baik pada SEA Games nanti,” kata Hendardji.

Dibanding cabang olahraga lain, tim karateka Indonesia memang menjadi salah satu cabor yang paling banyak mencicipi uji coba baik luar dan dalam luar negeri. Tak heran ketika kejuaraan dilakoni, hasil yang dapat atlet juga sejalan dengan target yang diberikan PB.Next

(mcy/rin)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!


View the original article here

Ganda Putri Habis, Indonesia Sisakan Satu Wakil di Semifinal

Changzhou - Indonesia tak menyisakan satupun wakilnya di nomor ganda putri China Masters setelah Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii menelan kekalahan. Cuma pasangan Riky Widianto/Puspita Richi Dili dan Markis Kido/Pia Zebadiah yang berhasil melaju ke semifinal.

Bertanding pada Jumat (13/9/2013) malam WIB, pasangan Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii dijegal ganda putri nomor satu dunia dari China Yu Yang/Wang Xiaoli dengan 16-21 dan 11-21 dalam waktu 29 menit.

Nitya/Greysia keteteran sejak awal game pertama. Mereka langsung tertinggal 0-8. Kans untuk membalikkan keadaan gagal meski mampu mendekati perolehan poin 6-8. Pasangan yang ada di urutan ke-55 dunia itu merampungkan game pertama dengan kekalahan 16-21 tanpa sekalipun sempat menyusul poin lawan.

Kondisi serupa terjadi di game kedua. Nitya/Greysia malah makin tak berdaya setelah tertinggal 11-15.

"Pada pertandingan tadi, kami kesulitan dengan bola-bola yang diberikan Wang/Yu. Bola-bola mereka susah untuk kami kembalikan," kata Nitya usai pertandingannya.

"Kami sudah bermain di pola yang benar, dengan menekan lawan lebih dulu, akan tetapi banyak buangan bola kami yang tanggung," lanjut dia.

Ganda putri lainnya Pia Zebadiah/Rizki Amelia Pradipta lebih dulu angkat koper. Unggulan keempat itu kandas di tangan pasangan Korea Selatan, Jang Ye Na/Kim So Young, dalam pertarungan tiga game 17-21, 21-18, 10-21.Next

(fem/din)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!


View the original article here

Indonesia Tekuk Myanmar 2-1

Sorry, I could not read the content fromt this page.Sorry, I could not read the content fromt this page.

View the original article here

Kido/Pia Tambah Kekuatan Indonesia di Semifinal China Masters

CHANGZOU, KOMPAS.com - Markis Kido/Pia Zebadiah menambah kekuatan Indonesia yang lolos ke semifinal Adidas China Masters 2013, di Changzhou, China. Pasangan kakak-adik ini lolos setelah mengalahkan pasangan Korea, Shin Baek-cheol/Jang Ye-na, 21-15, 21-9, Jumat (13/9/2013).

Sebelum laga ini, Kido dan Pia sama-sama menelan kekalahan saat turun di nomor ganda putra dan putri. Tetapi di ganda campuran, mereka jadi kekuatan yang tak mudah untuk dikalahkan.

Kido/Pia menjalani game pertama dengan cukup mudah. Mereka selalu memimpin perolehan poin, hingga menutup game ini dengan 21-15.

Pada game kedua, giliran ganda Korea yang memimpin perolehan poin. Kido/Pia selalu dalam posisi mengejar, hingga akhirnya berhasil menyamakan kedudukan 18-18. Sempat tertinggal 18-19, Kido/Pia mengambil momen untuk bangkit dan akhirnya menutup game ini dengan 21-19.

Hasil ini memastikan langkah Kido/Pia ke semifinal, menyusul Riky Widianto/Richi Puspita Dili. Selanjutnya, Kido/Pia akan menghadapi unggulan kedua asal China, Zhang Nan/Zhao Yunlei.


View the original article here

Tim Davis Cup Indonesia Kalah Dua Pertandingan

Petenis Christopher Rungkat melakukan selebrasi usai menjadi juara dalam final Garuda Indonesia Tennis Master 2012 mengalahkan Sunu Wahyu Trijati di Lapangan Tenis Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (16/12/2012). Christopher berhasil memgalahkan Sunu dua set langsung (6-3, 6-1). | KOMPAS/HENDRA A SETYAWANKAOHSIUNG CITY, KOMPAS.com - Tim Davis Cup Indonesia menelan dua kekalahan pertama dari Taiwan, pada babak play-off terakhir Grup I Zona Asia, Jumat (13/9/2013), di Kaohsiung Yangming Tennis Courts, Kaohsiung City, Taiwan. Jika besok kalah lagi, Indonesia akan tersingkir ke Grup II.

Wisnu Adi Nugroho mewakili Indonesia pada partai pertama, melawan Huang Liang-chi. Dari peringkat dunia, Wisnu yang kini berada di urutan 1787, jauh tertinggal dari Huang yang berada di urutan 228. Huang mudah saja memenangi pertandingan ini dengan 6-0, 6-1, 6-3.

Indonesia berharap pada Chirstopher Rungkat yang turun pada partai kedua, menghadapi Chen Ti. Christo yang merupakan petenis terbaik Indoensia saat ini, juga tak mampu memberikan perlawanan. Taiwan memimpin 2-0, setelah Chen mengalahkan Christo dengan tiga set langsung, 6-2, 6-3, 6-1.

Pada hari kedua, Sabtu (14/9/2013), kedua negara akan memainkan partai ketiga yakni nomor ganda. Hingga tulisan ini disusun, Elbert Sie/David Agung Susanto masih terdaftar untuk menghadapi Lee Hsin-han/Peng Hsien-yin. Susunan pemain masih bisa berubah sebelum pertandingan besok.

Jika kembali kalah, Indonesia akan langsung turun ke Grup II Zona Asia, pada kompetisi tahun depan. Jika menang, Indonesia masih punya kesempatan bertahan, dengan menyisakan dua pertandingan lagi pada hari ketiga, Minggu (15/9/2013).


View the original article here

Indonesia Pastikan Satu Tempat di Semifinal

Chengzou - Indonesia memastikan satu tempat di semifinal setelah dua dari tiga wakilnya dipastikan saling berhadapan di perempatfinal. Di partai lain, dua ganda campuran sukses memenangi laga babak pertama.

Wakil yang pertama adalah Praveen Jordan/Vita Marisaa. Pasangan junior-senior tersebut tampil impresif untuk mengalahkan unggulan ketiga Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam 21-15, 21-23, 21-11 di babak kedua, Kamis (12/9/2013).

Praveen/Vita disusul oleh Riky Widianto/Puspita Richi Dili. Ganda campuran unggulan keempat ini tidak mengalami kesulitan berarti untuk menumpas perlawanan wakil Jepang Hirokatsu Hashimoto dua set langsung 21-11, 21-14.

Dua pasangan Indonesia yang disebut di atas selanjutnya akan 'saling bunuh' untuk memperebutkan satu tiket ke babak semifinal.

Pada partai babak kedua lainnya, Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii justru tidak perlu berkeringat untuk lolos ke perempatfinal. Keduanya menang WO setelah lawannya unggulan keilam Bao Yixin/Zhong Qianxing mundur.

Sementara itu, ada dua ganda campuranIndonesia yang baru bertanding pada hari ini. Mereka adalah Lukhi Apri Nugroho/Annisa Saufika dan Markis Kido/Pia Zebadiah Bernadeth.

Lukhi/Annisa meraih tiket babak kedua setelah lawannya Liu Cheng/Bao Yixin retired dalam kedudukan tertinggal 8-14 di gim pertama. Selanjutnya, mereka akan menghadapi Guo Junjie/Luo Jiaxin.

Berbeda dengan Lukhi/Annisa, Kido/Pia harus melewati duel sengit selama dua gim melawan Chai Biao/Tang Jinhua sebelum memastikan kemenangan 22-20 dan 22-20. (rin/roz)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!


View the original article here

Jumat, 13 September 2013

BlackBerry Q5 Kini Tersedia di Seluruh Indonesia

Sesuai dengan yang pernah diberitakan sebelumnya , BlackBerry hari ini mengumumkan ketersediaan smartphone terbaru, BlackBerry Q5 secara nasional di seluruh Indonesia.

BlackBerry Q5 yang diklaim hadir menyasar segmen anak muda ini menawarkan pengalaman mobile computing yang handal dengan fungsionalitas BlackBerry 10 yang canggih.

“BlackBerry sangat bangga untuk menyediakan berbagai macam smartphone BlackBerry 10 untuk memenuhi kebutuhan konsumen Indonesia. Smartphone BlackBerry Q5 ditargetkan untuk kaum muda yang sangat aktif dan dinamis, serta orang-orang yang ingin menikmati pengalaman baru dengan samrtphone BlackBerry 10 yang pertama dan pengguna Blackberry 10 pertama,” demikian dikatakan Maspiono Handoyo, Managing Director for Indonesia at BlackBerry.


View the original article here

Koalisi Australia Akan Negosiasi dengan Indonesia soal Pencari Suaka

CANBERRA, KOMPAS.COM — Australia akan dekati Indonesia untuk bernegosiasi soal kebijakannya mencegah pencari suaka masuk ke perairannya. Kebijakan yang digagas oleh koalisi pimpinan Perdana Menteri terpilih Tony Abbott sebelumnya ditolak oleh Pemerintah Indonesia.

Calon Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, mengatakan bahwa koalisi di bawah pimpinan Perdana Menteri (PM) Tony Abbott akan bernegosiasi dengan Indonesia soal masalah pencari suaka.

Negosiasi akan dilakukan setelah sebelumnya Indonesia menolak usulan koalisi soal kebijakan pencari suaka yang dilontarkan saat kampanye pemilu.

Di hadapan Komisi Hubungan Luar Negeri di DPR, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan bahwa kebijakan soal pencari suaka Australia yang digagas PM terpilih Tony Abbott seolah menjadikan masalah tersebut harus diselesaikan dari Indonesia.

Tidak hanya itu, Marty juga telah menegaskan kepada parlemen bahwa pemerintah akan menolak usulan Abbott untuk membeli perahu dari para nelayan di Indonesia.

"Tentu saja kita akan menolak jika mereka mencoba mencegah kapal dari Indonesia dengan cara membeli kapal-kapal milik nelayan Indonesia," tekan Marty.

Menurutnya, Pemerintah Indonesia perlu membedakan antara kampanye politik Abbott sebelum ia menjadi Perdana Menteri dan kenyataan di lapangan.

Saat kampanye jelang pemilu, pihak koalisi berjanji untuk membeli perahu-perahu milik nelayan Indonesia sebagai bagian dari rencana untuk menghentikan perdagangan manusia.

Kebijakan ini ditentang oleh Menteri Imigrasi Australia, Tony Burke, juga pengamat hubungan luar negeri dari Universitas Indonesia, Profesor Hikmahanto Juwana.

"Kebijakan itu hanyalah akan membuat hubungan Indonesia dan Australia menjadi buruk. Indonesia tidak akan menerima gagasan Abbott," kata Profesor Hikmahanto.

Abbott sendiri dalam kampanyenya pernah mengusulkan anggaran jutaan dollar untuk membayar para nelayan atau warga Indonesia yang memiliki informasi soal perdagangan manusia berdalih pencari suaka. Informasi ini nantinya akan digunakan pihak keamanan Australia untuk ditindaklanjuti.

"Pastinya, kita akan menolak kebijakan-kebijakan yang tidak sejalan dengan semangat kerja sama dan integritas serta kedaulatan nasional," tekan Marty.

"Saya harap setelah kita mulai berkomunikasi, kita dapat tahu apa kebijakan Australia sesungguhnya."

Operasi Kedaulatan Perbatasan

Abbott mengumumkan Operasi Kedaulatan Perbatasan pada bulan Juli lalu, yang melibatkan militer untuk memerangi perdagangan manusia ke Australia.

Operasi ini dipimpin oleh komandan bintang tiga.

Aksi dalam operasi ini termasuk meminta kapal pencari suaka yang masuk Australia untuk kembali ke Indonesia.

Usulan ini pun tidak didukung oleh Indonesia.

Julie menjelaskan bahwa Operasi Kedaulatan Perbatasan pun akan menjadi pembahasan dalam pertemuan bilateral dengan Pemerintah Indonesia.

Rencananya pertemuan ini akan dilakukan segera.

"Diskusi akan dilakukan dengan pertemuan tatap muka, tanpa perantara media," tekan Julie.

"Sangatlah penting bagi Australia bekerja sama dengan Indonesia untuk bisa menghentikan perdagangan manusia yang melewati Indonesia."

Namun, Abbott tetap percaya kalau Australia bisa bekerja sama dengan Indonesia.


View the original article here

Minggu, 25 Agustus 2013

Pasangan Hongkong Diadili karena Siksa PRT Indonesia

Sektor perkantoran Hong Kong terus mengalami tekanan. Penurunan sebesar 1,7 persen terjadi pada kuartal II 2013. | www.wikimedia.orgHONGKONG, KOMPAS.COM — Pasangan suami-istri di Hongkong meninggalkan pekerja rumah tangga (PRT) mereka yang asal Indonesia dalam keadaan tanpa makanan atau air sementara mereka pergi berlibur selama lima hari, demikian dilaporkan media kota itu Sabtu (24/8/2013). Perempuan PRT itu ditinggalkan dalam kondisi terikat di kursi dan dipaksa untuk memakai popok.

Pasangan tersebut, yaitu Tai Chi-wai (42 tahun) dan istrinya Catherine Au (41 tahun) hadir di pengadilan pada Jumat terkait dakwaan "serangan yang menyebabkan kerusakan fisik", demikian menurut situs web resmi Departemen Kehakiman Hongkong.

Harian South China Morning Post melaporkan, Tai dan Au juga menghadapi tuduhan menahan seseorang, melakukan penyerangan, dan enam tuduhan yang menyebabkan kerusakan pada tubuh mantan pembantu mereka Kartika Puspitasari selama dua tahun yang berakhir Oktober lalu.

Pengadilan mengungkapkan pasangan itu, yang menyangkal semua tuduhan, mengikat pembantu mereka setiap kali mereka meninggalkan rumah atau pergi ke tempat tidur. Pengadilan juga mengungkapkan, Au diduga telah menggunakan pemotong kertas untuk melukai tangan dan perut Puspitasari dan membenturkan kepalanya ke keran air. Pasangan itu juga diduga telah memukulinya dengan rantai sepeda, sepatu, dan menempeli lengan dan wajah dengan besi setrika.

Puspitasari akhirnya berhasil melarikan diri Oktober lalu tak lama setelah ia dihukum karena memakan ayam dan sepotong kue dari kulkas pasangan itu setelah dia tidak diberi makan selama dua hari, kata pengadilan. Untuk menghukumnya, Tai diduga telah menampar wajahnya tiga kali, mengikat tangan dan kakinya dan mendorongnya ke kamar mandi sebelum kemudian mereka pergi meninggalkan flat.

Setelah menyadari bahwa pintu kamar mandi tak terkunci, Puspitasari merangkak ke ruang tamu, melonggarkan ikatan dan melarikan diri ke jalanan di mana dia mencari bantuan dari rekan senegaranya dan dibawa ke konsulat Indonesia.

Sidang kasus itu akan dilanjutkan Senin.

Hongkong adalah rumah bagi hampir 300.000 pembantu rumah tangga dari negara-negara Asia terutama Asia tenggara, seperti Filipina dan Indonesia. Sebuah serikat pekerja yang mewakili para pekerja rumah tangga menggelar protes pada Maret untuk menyerukan diakhirinya kebijakan yang mengharuskan para pembantu asing tinggal bersama majikan mereka. Mereka mengatakan bahwa aturan itu membuat mereka rentan terhadap penyerangan dan pelecehan seksual.


View the original article here

Catatan Jakob Oetama: Mengembangkan Indonesia Kecil (II)

Ungkapan small Indonesia in the making jauh dari rasa jumawa dan arogan. Serba tahu diri dan penuh pengertian, Kompas Gramedia dengan berbagai kegiatan bisnisnya, hanya salah satu pembawa obor. Banyak perusahaan lain, dari sisi finansial jauh lebih besar dan jauh lebih pantas menyandang gelar pembawa obor.

Akan tetapi, sejak awal Saudara Ojong dan saya, merintis, mendirikan dan mengembangkan usaha ini tidak hanya usaha bisnis. Ketika mendirikan Intisari, mungkin belum sedetail seperti ketika mendirikan Kompas. Kami mengambil posisi dan menjabarkan independensi kami: usaha ini sebagai bagian dari ikut serta membangun sebuah Indonesia. Dasarnya kesamaan kemanusiaan Indonesia, heterogenitas Indonesia yang beragamdan di atas keberagaman itulah Indonesia yang satu. Bhineka Tunggal Ika. Ikut serta berusaha terus-menerus Indonesia menjadi lebih baik.

Sebagai salah satu bentuk usaha bisnis, saya teringat kata-kata Matsuhita tentang kelompok usahanya. Laba bukanlah cermin kerakusan perusahaan. Laba, tanda kepercayaan masyarakat. Laba, pertanda efisiensi. Setiap perusahaan memiliki kebudayaan korporat yang berbeda perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya. Kebudayaan korporat memberikan corak yang khas. Kebudayaan korporat hanya bisa ditumbuhkan kalau ada nilai-nilai yang dihayati bersama oleh seluruh pimpinan dan karyawan. Nilai-nilai itu disampaikan sebagai tradisi lisan dan tertulis, dalam keteladanan dan sosok-sosok manusia yang terlibat di dalamnya.

Kami meninggalkan falsafah, etika dan budaya kerja ---secara tertulis pernah disampaikan Sdr. Ojong dan Falsafah Perusahaan Kita, secara tradisi dalam jatuh bangun mengembangkan Kompas Gramedia bersama para pimpinan dan karyawan selama 50 tahun ini. Bersamaan pula dikembangkan kebiasaan yang mendukung etika dan etos dalam bekerja. Jujur, bekerja tuntas, tegas, tetapi juga punya hati; turunan semangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam bentuk terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari—relatif memang—karyawan dan keluarganya yang kini mencapai 19.000 orang.

Kami bahu-membahu, memperkaya dan mengembangkan etos dan etika itu, mentransfernya sebagai budaya korporat. Budaya itu terus diperkaya, dipraktikkan, dan dirumuskan menjadi kerangka dan pedoman kerja. Muaranya plus-minus serta mengambil bagian dalam membangun Indonesia lebih baik. Jiwa dasarnya Indonesia kecil, kemanusiaan yang beriman, demi kemaslahata nmanusia dan kemanusiaan. Jiwa dasar itu menjadi tali pengikat, sumber referensi yang senantiasa dalam penerjemahannya disesuaikan dan diperkaya oleh kondisi dan perkembangan zaman.

Perusahaan ini berkembang selain karena kerja keras, kompetensi dan sinergi, juga berkat penyelenggaraan Allah (providentiadei) lewat tangan-tangan kita manusia dengan kelebihan dan kekurangan kita. Selayaknya rasa terimakasih dan bersyukur disampaikan. Jauh dari sikap jumawa dan arogan, KG menjadi sarana dan jalan bagi kebahagiaan banyak orang. Bekerja senantiasa merupakan praktik dan refleksi ibadah, ora et labora, berdoa dan bekerja.

Lima puluh tahun Kompas Gramedia tumbuh dan berkembang berkat kerjasama kita yang berpilin tangan secara sinergik, memperoleh kepercayaan masyarakat, didasari atas cita-cita tidak sekadar usaha bisnis tetapi juga mengembangkan ide-ide Keindonesiaan. Keberhasilan ini berkat bantuan banyak pihak, para pemangku kepentingan. Kesempatan ini sekaligus untuk mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak, karena saling menyertai dan saling mendukung perjalanan KG sebagai bagian dari mengembangkan Indonesia Kecil. Tantangan ke depan semakin berat, tetapi niscaya beban itu menjadi ringan manakala kita dukung bersama. Hari ini niscaya endapan hari kemarin sekaligus proyeksi esok hari!
(Jakob Oetama, salah seorang pendiri Kompas Gramedia dan publisher National Geographic Indonesia)


View the original article here

Catatan Jakob Oetama: Mengembangkan Indonesia Kecil (I)

Ketika Majalah Intisari terbit pertama kali, 17 Agustus 1963, tidak terbayangkan itulah awal hadirnya kelompok Kompas Gramedia. Lima puluh tahun kemudian, masuk akal jika Kompas Gramedia telah bersosok, atau mengutip ungkapan Prof de Volder sebagai “lembaga yang organik sekaligus organis”.

Serupa lembaga surat kabar, Kompas Gramedia dengan bisnis inti industri informasi, atau pabrik tulisan atau kata-kata—Gramedia: grafika media—terdiri atas berbagai bagian yang beragam. Bagian-bagian itu bekerja sama dan berinteraksi melaksanakan fungsi masing-masing. Fungsi-fungsi yang beragam itu secara organis bekerja sama dan bersinergi menjalankan peran dan panggilan yang terikat oleh tujuan dan falsafah bersama.

Dalam statusnya yang organik sekaligus organis itulah hidup, berkembang dan berfungsi Kompas Gramedia, dinamis dan senantiasa berubah sejalan dengan dinamika perkembangan masyarakat (Marshall McLuhan: the extension of man). Sejalan itu, bidang yang menjadi perhatian dan sarana pun beragam.

KG yang awalanya berusaha di bidang knowledge industry—Intisari 1963, Harian Kompas 1965, Toko Buku Gramedia 1970, Percetakan Gramedia 1971, Radio Sonora 1972, Majalah Bobo 1973, koran-koran daerah dengan brand Tribun baru setelah tahun 1987—dengan segala variasi bidang usahanya diikat dalam satu falsafah bersama. Yakni opsi dasar (optio fundamentalis) yang digagas, dibayangkan sekaligus menjadi tali simpul kebersamaan.

Small Indonesia in the making.Ungkapan itu menggambarkan cita-cita bahkan mimpi perintis dan pendiri Kompas Gramedia 50 tahun lalu. Saudara PK Ojong dan saya ketika mendirikan Intisari 50 tahun lalu, berangkat tidak dengan modal uang tetapi ide dan cita-cita. Selain sebelumnya kami bertemu dalam berbagai kegiatan, kami juga bertemu dalam kesamaan cita-cita, persepsi dan impian untuk ikut ambil bagian mengembangkan Indonesia.

Inklinasi dan pandangan politik kami sama: Indonesia Kecil. Indonesia bukanlah kotak-kotak yang terbagi-bagi dalam sektor-sektor dan bagian-bagian yang terpisah secara rigid, tetapi Indonesia yang satu berwarna-warni, beragam dalam segala hal. Bagian-bagian memiliki kekhasan yang tidak luluh karena kebersamaan. Tetapi menjadi mosaik indah dan produktif yang disebut Indonesia.Saling menunjang secara sinergik, yang organik sekaligus yang organis.

Cita-cita ini tidak orisional, sebab para bapak bangsa Indonesia sudah menggagas dan menjabarkan ketika ingin membangun sebuah negara Indonesia. Cita-cita besar dan semangat keberagaman dalam kebinekaan kami bawa dalam lingkup yang kecil: Kompas Gramedia. Indonesia Kecil atau Indonesia mini menjadi ideologi yang terus dikembangkan, juga setelah KG merambah keluar dan pakem knowledge industry.

Tekadnya KG ingin terus menjadi sarana, jembatan dan titik temu berbagai kebedaan negara-bangsa Indonesia. Tidak hanya dalam cita-cita tetapi juga dalam membangunnya sebagai lembaga yang organik sekaligus yang organis.
(Jakob Oetama, salah seorang pendiri Kompas Gramedia dan publisher National Geographic Indonesia)


View the original article here

Jumat, 12 April 2013

Sony Indonesia Tetap Andalkan Produk Audio Visual

Aditya Panji/KompasTekno Sony

JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan teknologi Sony terus menggempur pasar Indonesia dengan produk elektronik audio dan visual. Di tengah persaingan yang ketat, perusahaan mengklaim bisnisnya tetap tumbuh di Indonesia.

Presiden Sony Indonesia Satoru Arai mengatakan, bisnis Sony tumbuh 40 persen pada tahun 2012. "Di tahun 2013, Sony menargetkan bisa tumbuh hingga 60 persen," kata Arai di Jakarta, Kamis (11/4/2013).

Ia optimis target itu bisa dicapai karena Sony akan memperluas jalur distribusi dengan membangun kantor cabang di beberapa kota. "Kita sudah memiliki 9 kantor cabang di Indonesia, dan akan bertambah jadi 13. Jumlah service center juga akan ditambah," ujarnya.

Audio visual

Dalam acara Sony Partners Conference 2013 bertajuk Rhythm in Harmony, perusahaan Jepang masih mengandalkan teknologi audio visual untuk dunia hiburan, antara lain televisi, kamera, home theater, pemutar musik digital Walkman nirkabel dan tahan air, pengeras suara, hingga ponsel pintar berbasis Android

Salah satu yang menarik perhatian adalah televisi berteknologi 4K yang ada pada dua produk televisi Sony seri X. Menurut standar yang dibuat Consumer Electronics Association, produk televisi 4K harus memiliki resolusi 3.840 x 2.160 pixel. Video yang mengusung label 4K juga harus memiliki resolusi standar tersebut.

Dengan resolusi yang demikian kaya, mata Anda akan dimanjakan oleh detail dan warna tajam yang mirip seperti aslinya. Standar 4K itu jauh di atas standar resolusi high definition (HD) yaitu 1.280 x 720 pixel, dan full-HD (1.920 x 1.080 pixel) yang saat ini telah menjadi produk konsumen.

Sayangnya, televisi 4K saat ini belum menjadi produk konsumen "sah", mengingat harganya yang terlalu tinggi.

Ponsel pintar Android

Untuk ikut memeriahkan pasar perangkat mobile, Sony memiliki unit bisnis Sony Mobile Communications yang khusus menjalankan bisnis ponsel pintar berbasis Android. Ponsel andalan yang sekarang adalah Xperia Z, yang diharapkan bisa bersaing dengan ponsel Android premium lain.

Xperia Z mengusung layar 5 inci, serta didesain tahan air dan tahan debu. Ia menyandang sertifikat IP 55 dan 57, sebuah standar ketahanan internasional. Xperia Z bisa diajak menyelam di kedalaman 1 meter selama 30 menit.

Ponsel ini dibekali dengan teknologi terkini dari Sony. Ia memakai Mobile Bravia Engine 2 pada layar, teknologi sensor Exmor RS pada kamera, serta perangkat lunak Walkman untuk memperkaya pengalaman mendengarkan musik. 


View the original article here