Jumat, 13 September 2013

Smartphone Dual-core 1,5 Juta-an

Smartphone apa yang harganya 1.5 jutaan yang dual core ?? Thanks pulsa...

girsankpranxxx@gmail.com

Jawab:

Dengan budget harga 1,5 juta, Anda bisa mendapatkan  Smartphone dengan kemampuan dual-core seperti: IMO S88 Discovery, Lenovo A800, Smartfren Andromax i New, Cross A7s.


Read more ...]]>

View the original article here

Hari/Trikus ke Semifinal Kejuaraan Dunia

JAKARTA, Kompas.com - Ganda Harijanto Arbi/Tri Kusharjanto lolos ke babak semifinal ganda putra KU 35 di kejuaraan dunia senior BWF di Ankara, Turki, Kamis (12/9/2013).

Hari/Trikus yang diunggulkan di tempat 3/4 maju ke semifinal setelah mengalahkan  ganda asal Denmark, Lars Klintrup/Rasmussen Morten Eilby dalam dua gim 21-7, 21-12.

Dengan hasil ini, pasangan Indonesia ini akan menghadapi ganda putera Jerman,  Jan-Lennard Hay/Ingo Waltermann di babak semifinal.

Di semifinal KU 35 lainnya,  pemain Indonesia lainnya, Dharma Gunawi yang berpasangan dengan Juergen Koch dari Jerman akan menghadapi unggulan 2 dari Inggris, Lee Clapham/Nick Ponting.

Indonesia juga meloloskan wakil di semifinal kelompok usia 40 yaitu Eddy Hartono yang berpasangan dengan pemain Indonesia yang kini bermukim di Filipina, Rudy Wijaya. Kempong/Rudy akan menghadapi ganda Rusia, Oleg Grigoryev/Vadim Nazarov.

Di usia 45, Hendry Saputra/Effendy Wijaya bertemu Milan Duvsund/Erik Soderberg, sementara di kelompok usia 50, Bobby Ertanto/Simbarsono Sutanto akan menghadapi ganda Denmark, Jan Bertram Petersen/Jesper Kritter Tolman.


View the original article here

Alamsyah Kalah di Djarum Sirnas

MEDAN, Kompas.com - Laga babak perempat final nomor tunggal dewasa putra Djarum Sirkuit Nasional (Djarum Sirnas) Li Ning Sumatera Utara Open 2013 berlangsung seru. 

Unggulan pertama sekaligus juara empat seri Djarum Sirnas berturut-turut di 2013, Alamsyah Yunus, akhirnya harus menghentikan kedigdayaannya di ajang yang memperebutkan hadiah total Rp 240 juta ini.

Menghadapi Hermansyah yang sudah sering ia kalahkan, Alamsyah bisa menang mudah 21-10 di game pertama. Di game kedua pun terlihat ia bisa mendominasi pertandingan, juara Malaysia Open Grand Prix Gold 2013 itu sempat memimpin 11-8 di interval, sayang, banyaknya kesalahan sendiri yang ia lakukan membuatnya kehilangan game kedua dengan 17-21.

Sementara di game pamungkas, Alamsyah langsung tertinggal 0-3, sempat menyamakan kedudukan di angka 9, Alamsyah kembali tertinggal jauh 9-11, sempat mencoba untuk mengejar ketertinggalan saat kedudukan 14-18. Namun, lagi-lagi kesalahan sendiri sekaligus permainan rally dan menyerang yang diperagakan oleh Hermansyah membuatnya kehilangan tiket ke semifinal dengan 19-21.

“Hari ini saya bermain jelek, banyak sekali kesalahan yang seharusnya tidak saya lakukan. Gampang mati sendiri, banyak bola out, belakangan ini main saya terasa jelek, padahal biasanya di Sirnas saya bisa juara, tadi juga stamina saya belum habis, tapi ya poinnya sudah habis,” ujar Alamsyah seusai laga.

Bagi Hermansyah sendiri, tentu kemenangan ini menjadi salah satu kemenangan yang ia nantikan. Ini kali pertama atlet asal PB Jaya Raya itu sukses membekuk atlet berperingkat 25 dunia itu. “Di game pertama saya telat start, banyak sekali bola ragu-ragu, di game kedua pun saya sempat tertinggal, tapi saya mencoba bermain lebih sabar karena saya sudah mengetahui permainan dia, memang harus siap capek lawan pemain rally dan ulet seperti Alamsyah,” ujar Hermansyah.

Hermansyah sendiri kini berpeluang besar untuk bisa menjadi juara Djarum Sirnas untuk pertama kalinya. Di Bandung pada bulan Mei lalu, Hermansyah harus puas di posisi kedua setelah di partai puncak ia kalah dari Senatria Agus Setia Putra dari PB SGS PLN. Namun, di Medan, Senatria pun sudah tersingkir di babak awal. Kendalanya kini adalah calon lawannya di babak semifinal besok (13/9), di mana Fauzi Adnan asal PB Jaya Raya Suryanaga sudah menantinya. Fauzi ke semifinal setelah mengalahkan Reksy Aureza Megananda dari PB Djarum dengan 21-11, 17-21, dan 21-9.

“Alamsyah, Fauzi, dan Senatria tipe permainannya mirip, melawan mereka saya harus siap capek,” pungkas Hermansyah.

Sementara babak semifinal lainnya di nomor ini akan mempertemukan Gestano Ganendra dari PB Tangkas Specs melawan Febriyan Irvanaldi dari PB Hi Qua Wima.  

Sementara itu, wakil tuan rumah di sektor tunggal anak-anak putri, Siti Fadillah, akhirnya memang harus terhenti di babak perempat final. Siti gagal mengatasi lawannya, Dinda Dwi Cahyaning dari PB Jaya Raya Metland, ia kalah 15-21 dan 6-21. (*/)


View the original article here

CROSS A7S Hello Kitty, Ponsel Pintar Cantik Diburu Kaum Hawa

Penjualan perdana CROSS A7S Hello Kitty yang digelar di Atrium Mal FX Sudirman, Jumat, 23 Agustus menyedot perhatian pembeli. Tampak antrean sudah terjadi sejak pagi. Beberapa pembeli yang mayoritas datang dari kaum hawa meresa tertarik dengan ponsel pintar Hello Kitty CROSS. Namun, tak sedikit juga kaum pria yang berjejal ikut antre untuk mendapatkan ponsel tersebut.

Adit salah satu pembeli  dari Bogor rela datang pagi-pagi untuk membeli CROSS A7S. Ia tidak hanya membeli satu unit ponsel, melainkan tiga ponsel. “Satu untuk saya, satu titipin teman, satunya lagi titipan kakak saya,” ungkapnya.

Mekanisme pembelian memang dibatasi ...]]>

View the original article here

Path dan Pinterest Bertikai Rebutan Logo

Pertikaian tidak hanya dialami oleh vendor-vendor ponsel global, karena ternyata dua jejaring sosial, yaitu Path dan Pinterest tengah terlibat perseteruan untuk memperebutkan paten huruf "P" yang digunakan sebagai logo. Pinterest baru-baru ini sudah mendaftarkan desain logo dan Path mengajukan izin untuk bisa mengklaim hal yang sama.

Walaupun belum pasti desain logo apa yang digunakan, tapi menurut Konsultan Paten InterDIgital Communications Lenny Kravets, paten yang didapat Pinterest dapat mencegah Path untuk membuat rupa yang mirip.

"Tapi kalau Path yang mendapatkan paten, tidak berarti juga Pinterest akan berhenti untuk menggunakan huruf "P" sebagai logo ...]]>

View the original article here

Akhir Episode Duka Westerling

westerlingAnggota TNI yang menjadi korban APRA Westerling di Bandung. (Wikimedia Commons)

"Bajingan mereka itu! Aku tertipu! Bagus sekali, bekas Kapten Westerling tidak pernah ditemukan kembai, dilahap ikan hiu di lepas pantai Malaysia. Tidak ada cara yang lebih bagus untuk menyingkirkan pengacau."

Umpatan kasar dari Raymond Pierre Paul Westerling, mantan komandan pasukan Belanda yang membunuh rakyat Sulawesi Selatan tahun 1946-1947, kala perahu karetnya dikelilingi hiu sekitar tiga mil dari pantai Singapura, 22 Februari 1950.

Usaha putus asa Westerling ini dilakukan demi lari dari jerat hukum Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau tentara Belanda sendiri. Ia dianggap bersalah atas aksinya di Sulsel dan mencetuskan peristiwa Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

Pemberontakan ini sebenarnya bentuk kerja samanya dengan Letnan Jenderal Spoor yang kecewa dengan situasi politik yang merugikan Belanda di Indonesia. Westerling, secara pribadi, membangun citra diri yang menakutkan, menembak siapa saja di depan umum.

Saat menjadi komandan pasukan Belanda di Sulsel, Westerling awalnya diminta menindas perlawanan rakyat. Tapi yang terjadi adalah ia menegakkan "Mahkamah Militer Rakyat". Caranya?

Dengan mengumpulkan seluruh penduduk dalam satu lapangan, mengancam semuanya, memaksa mereka menunjuk kaum gerilya. Celakanya, warga yang ketakutan bakal menunjuk siapa saja demi menyelamatkan nyawa masing-masing. Namun, Westerling tidak perduli dan bakal mengeksekusi mereka yang ditunjuk sebagai gerilyawan.

Pria yang kadang dijuluki Turco karena di nadinya mengalir darah Turki ini juga dengan culas membunuh bangsawan bernama Raja Suppa Muda dan pamannya, Raja Suppa Tua. Menurut adat setempat, darah bangawan tidak boleh mengalir, maka Westerling menenggelamkan keduanya.

Kekejaman Westerling diyakini memakan korban 40 ribu jiwa. Tapi dari hasil penelitian Angkatan Darat tahun 1951, jumlah korban yang tewas menyusut, hanya 1.700 orang. 500 orang di antaranya adalah korban Barisan Penjaga Kampung --milisi tidak terlatih yang dipersenjatai Westerling.

westerling,knilRaymond Paul Pierre Westerling. (Wikimedia Commons)

Atas kebengisan inilah pemerintah Belanda menyatakan permintaan maafnya pada Kamis, 9 Agustus 2013 lalu. Selain itu diberikan ganti rugi berupa materi.

Ketua Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) Jeffry Pondakh, selaku pendamping kasus ini, menyatakan permintaan maaf dari Pemerintah Belanda harus dilakukan karena, "Westerling ini mendapatkan mandat dari pemerintah Belanda, dengan kata lain Pemerintah Belanda ikut bertanggung jawab."

Dari segi  materi, ada sepuluh janda korban penembakan yang akan menerima ganti rugi sebesar US$2.7000 atau Rp277,6 juta per orang. Pengacara para janda dalam kasus pembantaian di Sulawesi Selatan, Liesbeth Zegveld, mengatakan, para janda ini mencari keadilan atas meninggalnya suami mereka.

Perkara ini diselesaikan dengan kesepakatan yang dasar penyelesaiannya mengacu pada kasus kekejaman serupa. "Kami gembira dengan hasil ini, tapi ini hanyalah langkah kecil dalam sebuah proses yang besar: Pemerintah Belanda harus meminta maaf terhadap semua kasus pembantaian dan eksekusi di Indonesia," kata Zegveld seperti dikutip dari AFP.

Pertemuan antara pihak korban dan Belanda dijadwalkan terjadi hari ini, Kamis (12/9). Namun karena masalah usia dan kesehatan, para janda ini kemungkinan diwakili dalam pertemuan. Westerling sendiri wafat dalam usia 68 tahun. Dengan terlebih dulu luntang-lantung di Eropa sebelum kembali ke Belanda. Kisah lengkapnya di Westerling Pernah Jadi Juragan Angkutan Bandung-Jakarta
(Zika Zakiya. Sumber: Westerling Kudeta yang Gagal, BBC.co.uk/indonesia)


View the original article here

Sudah Dilarang, Ikan Aligator Masih Dijual Bebas


JAKARTA, KOMPAS.com — Ikan spesies invasif karnivora, khususnya jenis ikan aligator dan piranha, masih dijual bebas di Jakarta. Padahal, ikan-ikan itu sudah dilarang dijual bebas.

Pedagang mengatakan, sejauh ini tak ada sosialisasi pemerintah. ”Setiap bulan terjual hampir 60 ekor. Tahun 2011 bisa 100 ekor per bulan,” kata Tamrin, penjual ikan aligator di Jalan Kartini Raya, Jakarta, Rabu (11/9/2013). Ia memulai usahanya tahun 2011.

Penjual ikan piranha di Kompleks Pasar Inpres Radio Dalam, Jakarta Selatan, Ace, mengatakan, penjualan kedua jenis ikan itu pernah dilarang akhir 1990-an saat ia masih berjualan di Pasar Barito, Jakarta Selatan. Namun, larangan itu tak pernah disosialisasikan lagi meski tempat berjualan diperiksa petugas Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Selatan tiap tiga bulan.

Sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 Tahun 2009, sebelas jenis ikan piranha (Characidae) masuk dalam 30 spesies ikan yang dilarang masuk Indonesia. Alasannya, ikan itu membahayakan kelestarian sumber daya ikan, lingkungan, dan manusia.

”Ikan ini memang berbahaya kalau sampai ada yang sengaja memasukkan ke danau, waduk, atau sungai. Semua ikan akan dimangsa,” kata Tamrin.

Harga ikan aligator bervariasi, tergantung ukuran. ”Kalau pajangnya 19 sentimeter Rp 25.000 per ekor, kalau 30 sentimeter Rp 125.000 per ekor. Aligator spatula ini bisa sampai 1-3 meter. Kalau 1 meter harganya Rp 650.000 sampai Rp 800.000,” katanya.

Adapun harga ikan piranha berukuran sekitar 2 sentimeter Rp 20.000 per ekor.

Di lokasi sama, sesama penjual ikan, Opik Prado, menunjukkan keganasan piranha saat memangsa ikan lain. Seekor ikan hias yang dimasukkan hidup dengan ukuran hampir sama langsung disantap sekelompok piranha kurang dari lima menit.

Hal sama ditunjukkan Mulyadi, penjual ikan hias di Jalan Marga Guna, Jakarta Selatan, untuk ikan aligator. Ikan hias kecil yang dimasukkan hidup langsung disambar ikan aligator itu.

Menurut Mulyadi, kedua jenis ikan itu kini banyak dibudidayakan peternak lokal. Namun, ia tak menyebut lokasinya.

Seperti diberitakan, ikan aligator telah diintroduksikan di Waduk Jatiluhur. Piranha diduga terintroduksi di Waduk Cirata.

Menurut Kepala Pusat Karantina Ikan KKP Muhammad Ridwan, peraturan menteri ”hanya melarang” masuknya ikan dari luar. Pengendalian spesies invasif yang telanjur masuk ada pada petugas pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan. (ICH/K07/KOMPAS)


View the original article here